Belajar Alquran Harus Terus Menerus, Memasukkan Ruh Ihsan dan Merasa Dilihat Allah

Jumat, 23 Agustus 2019 22:14

Belajar Alquran Harus Terus Menerus, Memasukkan Ruh Ihsan dan Merasa Dilihat Allah

TRIBUN SUMSEL/MELISATOT MENGKAJI ALQURAN – Prof Dr Azharuddin Sahil foto bersama peserta Training of Trainer mengaji dan mengkaji Alquran yang digelar di Bimbel Moba Latansa Palembang, Jalan Basuki Rahmad, Palembang, Kamis (22/8/2019). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Ada kegalauan tentang pendidikan Quran di tanah air saat ini. Banyak bentuk pendidikan dari Qirot, Qiroati macam-macam bentuk. Tetapi ujung-ujungnya membuat orang itu tidak mencintai Alquran.

“Bisa membaca selesai lalu berhenti belajar Alquran padahal Alquran itu diturunkan untuk petunjuk,” ujarnya.

“Jadi petunjuk itu mesti dipahami, dan dihayati. Dan pendidikan saat ini tidak sampai ke situ hanya mengandalkan bisa baca, sudah bisa selesai,” kata dosen Universitas Utara Malaysia (UUM) yang juga alumnus Pondok Modern Gontor 1981 Prof Dr Azharuddin Sahil di Workshop Training of Trainer di Bimbel Moba Latansa Palembang, Jalan Jenderal Basuki Rahmad, Kamis (22/8/2019).

Dia melanjutkan orang-orang saat ini membaca Alquran di saat tertentu saja. “Seperti malam Jumat, pada saat tahlilan karena hal itulah saya menjawab dengan mengadakan pendidikan atau upgrading kepada guru-guru agama atau Alquran,” jelasnya.

“Mengajarkan Alquran itu membuat guru itu senang, dia merasa bahagia mengajar Alquran. Dia merasa istimewa saat mengajarkan Alquran juga bagaimana guru membuat siswanya merasa istimewa belajar Alquran. Jadi Alquran itu pendidikan berkelanjutan,” katanya.

Banyak umat Islam yang kenal Alquran tapi tidak mengenal apa Alquran itu sebenarnya. “Kenapa namanya Alquran, kenapa Alquran, kenapa di Alquran itu ada 114 surat, 30 juz dan itu semua hikmah yang sangat dalam jarang dikenal umat islam,” katanya.

“Bertahun-tahun belajar Alquran, qori sekalipun tapi tidak mengenal apa di balik semua itu,” ujarnya.

Banyak pula Tahfiz yang hanya menghafal tapi tidak ada target hafalan. “Bagi saya sebenarnya tahfiz ini bukan menghafal tapi menjaga. Maka tahfiz itu dia pasti baca, bisa tahsin lalu memahami baru mereka menghafal,” ujarnya.

“Alquran itu proses yang panjang dan berkelanjutan untuk seumur hidup bukan sementara. Tujuan training ini memberi pemahaman kepada guru Alquran untuk melihat bahwa ini suatu proses yang panjang. Mereka juga harus merasa bersyukur, istimewa karena menjadi guru Alquran,” jelasnya.

Terkait dengan banyak orang hanya membaca Alquran tapi tidak dilanjutkan, dia mengatakan bahwa jangan pernah salahkan zaman.

“Salahnya metode yang kita pakai ini, jadi ubah metode belajar danmengajar, zaman tidak boleh kita ingkari. Tinggal gimana kita beradaptasi, saya sekarang juga mengajar tidak lepas dari teknologi,” katanya.

Maka pada saat belajar Alquran adalah harus memasukkan ruh ihsan. “Maksudnya di sini merasa dilihat Allah, maka guru sebelum mengajar Alquran, mengajak siswanya sebelum belajar mari berdoa, mari rasakan Allah melihat. Metode nomor 2 tapi bila anak-anak sudah mencintai Alquran, maka kita bisa melakukan apa saja,” ujarnya. 

Penulis: Melisa WulandariEditor: Vanda Rosetiati



Sumber : Artikel ini telah tayang di Tribunsumsel.com dengan judul Belajar Alquran Harus Terus Menerus, Memasukkan Ruh Ihsan dan Merasa Dilihat Allah, https://sumsel.tribunnews.com/2019/08/23/belajar-alquran-harus-terus-menerus-memasukkan-ruh-ihsan-dan-merasa-dilihat-allah.
Penulis: Melisa Wulandari
Editor: Vanda Rosetiati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *